Kamis, 11 November 2010

TRAGEDI MAUT

Tak ada kata-kata diam bagimu untuk menjerit
Tak ada kata-kata selesai bagimu untuk menangis
Tak ada istilah istirahat bagimu untuk berduka
Tak ada kata berlari bagimu dari bencana
Indonesia....
Tragedi maut telah memagari seluruh pelosok tanah air
Tak cukup satu, tak cukup dua, tak cukup tiga
dan kali ini untuk kesekian kali...
kemana,,, kemana harus berlari??

Haruskah Indonesia ditutupi awan berkabung??
Haruskah ku dengar rintihan disetiap pelosok tanah air??
tidak.... tak sanggup...
sungguh tak sanggup ku memikul beban duka

Tapi..... apa???
apa yang terjadi??
Buka,,,,,
buka mata hati
dan lihat disekelilingmu
Lihat....
tidakkah kau mendengar rintihan dibalik itu...
Lahar panas mengguyuri Yogyakarta
Abu vulkanik bertebaran dimana-mana
Sijago merah melahap rumah rakyat jelata
Bumi menari memporak porandakan gedung pencakar langit
Lidah laut mencari mangsa
Sedu sedan di tanah Mentawai
Airpun bosan berada disungai,,
dan meluap,, membanjiri perkampungan
tanpa salam memasuki rumah warga

Buka mata hati
Renungkan dan bayangkan
andaikan orang-orang penghapus duka
malah membuat kita tertanam oleh duka
bayangkan....
di balik tumpukan puing-puing reruntuhan itu
ada ibu tergeletak tak bernyawa
di bawah timbunan longsor itu
ada ayah yang diam terkapar tanpa detak jantung
di sungai itu
ada kakak/abang yang mengapung
di kaki merapi itu
ada adik yang terbaring kaku

masih sanggupkah daku menopang nasib di bumi ini??

Buka mata hati
di sana,,, saudara-saudara kita menangis
merintih, mengeluh, memekik
menjerit, memanggil manusia
tolong aku.....
di balik runtuhan ini,,, di balik timbunan longsor ini

Namun manusia hanya kaku
seolah-olah tak mau tau
dia,,,dia,,,,
dan aku,, aku

Buka mata hati
tragedi maut tak tau kapan terjadi
tragedi maut akan menanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar